irsyadmuhammad

irsyadmuhammad.id
Sumber foto: MD Pictures


Akhirnya saya jadi salah satu dari jutaan orang yang udah ikutan nonton film KKN di Desa Penari. Sebagai orang yang udah lebih dulu baca cerita orisinalnya, berikut adalah review KKN di Desa Penari menurut saya!


Eits, sebelum itu, simak dulu sinopsis KKN Desa Penari agar kalian yang belum nonton gak kebingungan dengan jalan ceritanya. Oh, iya, karena saya nonton yang versi UNCUT, nanti bakal saya bahas sedikit juga di bawah.


BACA JUGA: Review Film Parasite (2019): Keluarga Miskin vs Keluarga Kaya


Sinopsis KKN Desa Penari


Film KKN di Desa Penari bercerita tentang enam mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil yang tidak disebutkan namanya.


Terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan, mereka adalah Bima (Achmad Megantara), Anton (Calvin Jeremy), Wahyu (Fajar Nugraha), Nur (Tissa Biani), Widya (Adinda Thomas), dan Ayu (Aghniny Haque).


Sejak awal kedatangan mereka di tempat tersebut, Nur sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang tidak beres. Hingga akhirnya, sebagian dari mereka mulai mengalami kejadian mistis.


Misalnya saja Widya yang kesurupan dan tanpa sadar menarikan sebuah tarian tradisional, atau Nur yang kerap diganggu lantaran memiliki 'penjaga' berupa nenek leluhur.


Permasalahan semakin pelik ketika Bima dan Ayu kedapatan berbuat hal tak senonoh di salah satu tempat sakral hingga keduanya terlibat perjanjian terlarang dengan sesosok jin penari. Mulai dari situ, sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan pun terjadi.


Review KKN di Desa Penari


Sumber Foto: MD Pictures


Saatnya masuk ke menu utama, yakni seputar review film KKN di Desa Penari yang bakal saya ulas secara jujur dan apa adanya. Lantas, apakah film-nya ampas seperti yang dikatakan banyak orang? Kalau itu, saya kurang setuju.


Menurut opini saya yang tidak terlalu suka nonton horor ini, film KKN Desa Penari 2022 terbilang cukup memuaskan. Nah, bagi pecinta film horor sejati, mungkin bakal merasa sebaliknya. Kok bisa?


Begini, jika kalian berekspektasi bahwa film-nya banyak menyuguhkan jump scare yang bikin jantung copot atau sosok hantu yang bikin kamu gak bisa tidur semalaman, maka kamu salah besar, cuy.


Terus letak horornya ada di mana? Menurut saya, letak seramnya ada pada unsur psikis yang dialami para tokoh, terutama yang dialami Widya dan Nur, bukan pada sosok hantu dengan visual mengerikan. 


Selain itu, satu alasan mengapa film ini begitu laris adalah adalah karena ceritanya diklaim berdasarkan kisah nyata yang pernah viral di Twitter pada 2019 lalu. Tentu sudah pada tahu, dong, ya.


Apalagi saya juga sudah baca semua cuitan yang ditulis pemilik akun Twitter bernama SimpleMan tersebut, jadi apa yang pernah saya bayangkan sebelumnya, setidaknya bisa diwakili oleh film ini.


Di samping itu, jujur saja, alur ceritanya memang bagus, kok. Para pembuat film ini saya akui sukses dalam merubah sebuah thread viral menjadi film berdurasi sekitar 2 jam.


Misalnya saja sejak film-nya pertama kali mulai, perlahan tapi pasti kamu akan diajak lebih mengenal seperti apa desa tempat mereka KKN serta hal-hal janggal yang ada di sana. Gak terlalu maksa, tapi penggambarannya dirasa sudah pas.


Penonton juga semakin dimanjakan dengan sinematografi yang oke punya. Dalam beberapa adegan, ada transisi kamera yang menurut saya diambil dengan sangat matang. Gak terlalu wah, tapi niatnya patut diapresiasi.



Sumber Foto: MD Pictures


Kalau pendalaman karakternya, sih, tidak terlalu tebal. Sebab, pemegang tonggak utama dalam cerita ini hanya ada pada tokoh Nur yang diperankan Tissa Biani dan Widya yang diperankan Adinda Thomas. Untungnya, akting mereka berdua di film ini layak diacungi jempol.


Kurangnya pendalaman karakter tersebut mungkin disesuaikan dengan cerita aslinya. Tapi, di situ pula letak kekurangan film ini, terutama bagi mereka yang tidak membaca thread SimpleMan pasti bakal ngerasa ada yang kurang.


Saya pun jadi berpikir, apa mungkin film ini bagus bagi saya karena saya sudah mengetahui cerita orisinalnya? Jangan-jangan, film ini memang kurang ramah bagi mereka yang bukan pembaca thread SimpleMan? Yup, bisa jadi.


Jadi bagi yang buta sama kisah aslinya, wajar jika kalian merasa tanggung atau "udah gitu doang, nih?". Balik lagi, karena kisahnya sudah terlanjur viral, sutradara dan penulis naskah mungkin jadi takut merusak imajinasi para pembaca. Serba salah juga, ya?


Terakhir soal versi Uncut dalam film ini, di mana terdapat sedikit adegan esek-esek dan suara desahan yang terdengar jelas di audio bioskop. Kalau kamu gak nyaman dengan itu, yaudah nonton versi Cut-nya aja. Saya kira gak merusak jalannya cerita juga. 


Noted: Kecuali kalian memang nunggu bagian 'itunya' doang, baru saya gak bisa larang. Uhuk!


BACA JUGA: Review Novel Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata


Kesimpulan 


Yah, segitu aja review KKN di Desa Penari dari saya. Intinya, film ini memang layak kalian tonton. Terlepas banyak yang kecewa karena unsur horornya cuma begitu, saya rasa itu wajar. Cuma catatan saya, kurangi dulu ekspektasi tentang hal tersebut sebelum menonton KKN film, ya, cuy.


Memang, perdebatannya ada pada orang-orang yang sudah terlanjur mengetahui cerita KKN di Desa Penari asli dengan mereka yang ingin ada penambahan dari sisi cerita atau visualnya. Tapi kalau saya yang ditanya, porsi yang begini udah terasa pas, kok. Kalau menurut Mas Anang, gimana?


Saya beri nilai 7.5/10 untuk film ini!















Post a Comment

Sila tinggalkan komentarnya.

Lebih baru Lebih lama